PESAWARAN – Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) bergerak cepat mengantisipasi potensi dampak fenomena El Nino terhadap sektor pertanian pada tahun 2026.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pesawaran, Hermanto S.T., M.M, mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pusat guna memastikan target panen seluas 12.900,26 hektare di Pesawaran dapat tercapai secara maksimal.
Menurutnya, pemerintah menargetkan produktivitas pertanian di Kabupaten Pesawaran tetap optimal dengan pola tanam yang memungkinkan petani melakukan panen hingga tiga sampai empat kali dalam setahun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hermanto menjelaskan, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, kondisi cuaca tahun 2026 menunjukkan adanya potensi perubahan iklim yang perlu diantisipasi sejak dini. Hal tersebut terlihat dari curah hujan yang masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun pola musim mulai tidak menentu.
“Melalui pantauan cuaca tahun ini terlihat bahwa pada bulan-bulan yang biasanya sudah mulai memasuki musim kemarau justru masih terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi. Namun kondisi ini tetap harus diwaspadai karena cuaca bisa berubah,” ujarnya.
Ia pun menyiapkan berbagai langkah strategis guna menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional dapat menjadi baik walau menghadapi persoalan ini.
Meski demikian, kondisi pertanian di Kabupaten Pesawaran hingga saat ini masih tergolong aman. Curah hujan di sejumlah wilayah dinilai masih cukup untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian sehingga belum terjadi kekeringan ekstrem.
“Alhamdulillah sampai sekarang hujan masih turun, tetapi kita tetap waspada, terutama memasuki akhir Mei hingga Juni karena kondisi cuaca bisa berubah sewaktu-waktu,” kata Hermanto. Saat ditemui di ruang kerja (20/5/2026).
Hermanto juga mengungkapkan, salah satu langkah yang dilakukan ialah percepatan panen melalui optimalisasi penggunaan combine harvester di wilayah sentra produksi pangan. Selain itu, percepatan masa tanam juga akan dimaksimalkan dengan dukungan alat dan mesin pertanian seperti traktor roda dua, traktor roda empat, hingga crawler tractor agar proses pengolahan lahan menjadi lebih cepat dan efisien.
“Langkah ini penting supaya petani bisa menyesuaikan pola tanam sebelum musim kemarau benar-benar berlangsung nantinya,” jelasnya.
Lanjut Hermanto untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau, nantinya Dinas TPH Pesawaran juga akan mengoptimalkan dengan cara penggunaan pompa air atau alkon, irigasi perpompaan air permukaan, hingga irigasi perpompaan air tanah secepatnya. Tak hanya itu saja yang diusulkan, pihaknya juga turut mengusulkan perbaikan jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier guna memperkuat distribusi air ke area persawahan.
Juga lanjut dia, menerangkan jaringan irigasi primer ini merupakan kewenangan pemerintah pusat, sedangkan irigasi sekunder menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Adapun irigasi tersier atau yang dikenal sebagai irigasi cacing berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten.
“Kalau memang kondisi di daerah mendesak dan terkendala anggaran, pemerintah pusat juga bisa langsung turun membantu penanganan,” tambahnya.
Selain penguatan infrastruktur pertanian, Dinas TPH Pesawaran juga mengoptimalkan peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai ujung tombak pendampingan petani di desa-desa.
Menurut Hermanto, seluruh kebutuhan dan kendala petani akan direkap mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten sebelum diusulkan kepada pemerintah provinsi dan pusat.
“PPL menjadi garda terdepan karena mereka yang langsung berhadapan dengan petani,” pungkasnya. (Mosi)










