BANDAR LAMPUNG (SMSI) – Demi kemanusiaan buat Relawan Escorting Lampung (REL), iklas tinggalkan orderan ojol. Sirene ambulans terjebak di tengah kemacetan membuat magnet, pengemudi ojek online untuk membuka jalan bagi ambulans saat membawa pasien gawat darurat.
Relawan Escorting Lampung (REL), komunitas yang berdiri sejak 2025 dan hingga kini konsisten mengawal ambulans tanpa memungut biaya. Beranggotakan sekitar 50 relawan, REL menjadi bagian dari upaya mempercepat penyelamatan nyawa pasien di tengah padatnya arus lalu lintas.
Salah satu anggota REL, M. Nuh, mengatakan kemacetan menjadi tantangan terbesar dalam setiap pengawalan. Menurutnya, keterlambatan beberapa menit saja bisa sangat menentukan keselamatan pasien.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kadang pada jam-jam tertentu sangat sulit membelah kemacetan. Sementara pasien harus segera mendapat penanganan medis. Kami bergerak karena panggilan hati, bukan karena imbalan,” ujar M. Nuh, kemarin
Meski belum memiliki armada ambulans sendiri, REL aktif berkolaborasi dengan sejumlah lembaga ambulans kemanusiaan, di antaranya Tiga Serangkai, Unit Ambulans Masjid Al Wutsqo, Indah Cargo, dan Rumah Zakat.
Selain mengawal ambulans yang membawa pasien menuju rumah sakit, relawan juga membantu proses pemulangan pasien, hingga mengawal perjalanan jenazah dari rumah sakit menuju rumah duka maupun ke tempat pemakaman.
“Semua layanan kami gratis. Tidak ada biaya apa pun,” tegasnya.
Anggota REL lainnya, Lukman, mengaku aktivitas kemanusiaan itu dijalankan di sela pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online. Namun, ketika panggilan darurat masuk, mencari nafkah harus dikesampingkan.
“Kalau tidak ada pengawalan kami tetap narik seperti biasa. Tapi kalau ada panggilan darurat, orderan kami tinggalkan. Rezeki bisa dicari lagi, tapi nyawa orang tidak bisa menunggu,” katanya.
Di balik dedikasi tersebut, REL masih menghadapi keterbatasan. Ketua Relawan Escorting Lampung, Andi, mengungkapkan komunitasnya hingga kini belum memiliki legalitas resmi maupun armada ambulans sendiri. Meski demikian, kepengurusan organisasi telah terbentuk dan kegiatan sosial terus berjalan.
“Secara legalitas memang kami belum ada, tetapi struktur organisasi sudah lengkap. Kami tetap bergerak karena tujuan kami hanya satu, membantu sesama,” ujarnya.
Andi berharap Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kota Bandar Lampung, instansi terkait, hingga para tokoh masyarakat dapat memberikan dukungan dan membangun koordinasi yang lebih baik agar proses pengawalan ambulans semakin efektif.
Menurutnya, sinergi dengan pemerintah akan mempermudah relawan membuka akses di jalan sehingga pasien bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan medis.
“Kami berharap ada perhatian dan dukungan dari pemerintah maupun pihak-pihak yang peduli terhadap kegiatan kemanusiaan ini. Tujuannya agar pasien bisa lebih cepat sampai di rumah sakit dan segera mendapatkan penanganan,” katanya.
Tak hanya itu, Andi juga membuka kesempatan bagi masyarakat, perusahaan, maupun lembaga sosial yang ingin berpartisipasi melalui bantuan armada ambulans.
“Kalau ada yang ingin menyumbangkan unit ambulans demi kepentingan kemanusiaan, kami siap menerima dan mengelolanya untuk membantu masyarakat,” Tutupnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan tanpa mengharapkan imbalan, sekitar 50 relawan REL terus membuktikan bahwa kemanusiaan tidak selalu lahir dari organisasi besar. Berbekal sepeda motor, rompi, dan kepedulian, mereka menjadi pembuka jalan bagi harapan, memastikan setiap detik yang berharga dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan nyawa. (Wan)










